Kehamilan ketiga jauh dari rencana. Namun ternyata Alloh masih mempercayakan amanahnya kembali kepada kami. Dengan mengucapkan bismillah kami berusaha menjaga amanah ketiga kami.
Pada kehamilan ketiga ini, saya merasa berbeda. Terutama dalam pikiran dan perasaan. Saya lebih perasa dan mudah panik. Awal trimester pertama, saya merasa baik-baik saja. Masih bersepeda berangkat dan pulang dari warung (waktu itu kami membuka warung makan kecil-kecilan).
Pemeriksaan di bulan ke-2 kami mencoba dokter yang berbeda. Ya, sambil mencari yang bisa "klik" dengan saya. Setelah sesi pemeriksaan selesai saya berkonsultasi dengan beliau. Menurut beliau janin sehat dan semua normal kecuali, plasentanya. Hiks. Diketahui posisi perlekatan plasenta agak ke bawah. Khawatir dan sedikit panik segera saya cari referensi pengalaman dari teman dan saudara. Berbagai penguatan dari mereka mengurangi tingkat stress emak.
Bulan berikutnya keluar flek! Astaghfirulloh, apa lagi ini. Begitu pemikiran saya waktu itu. Dua kehamilan sebelumnya tidak pernah ada masalah berarti. Alhamdulillah kondisi baik-baik saja namun perlu penguat. Oke, dijalani lahi, bismillah. Dengan kondisi ini, kami terpaksa gulung tikar warung. Dan menyapih Bee, alhamdulillah Alloh mudahkan. Bee dengan mudah diberi pengertian dan tanpa drama berarti.
Bulan-bulan berikutnya alhamdulillah berjalan lancar tanpa hambatan berarti. Hingga masuk ke minggu ke-38 kami lebih sering kontrol. Masuk minggu ke-39 kami USG lagi semua kondisi bagus. Namun, sampai minggu ke-40 saya masih merasa HIS palsu saja. Hingga masuk minggu ke-41 saya masih merasakan HIS palsu. Perasaan sudah campur aduk. Namun dari hasil USG dan pemeriksaan bidan kondisi janin sehat. Beruntung bertemu bidan yang sabar dan bersedia menunggu sampai titik terakhir.
Hari Jum'at siang, minggu ke-41 saya periksa ke bidan karena merasa kontraksi semakin intens dan sering. Namun ketika dicek, pembukaan masih 1 lebih sedikit. Oke, kami pulang kembali. Paksu sudah ambil cuti hari itu untuk siaga. Hari Sabtu bapak saya beserta istri dan adik saya rencana berangkat ke Bogor untuk menemani kami.
Jum'at sore, lebih sering lagi kontraksi yang saya alami. Tapi intensitasnya masih sama saja. Pergi periksa, ternyata masih bukaan dua, kepala masih tinggi, dan belum ada lendir. Bidan menyarankan untuk pulang lagi, jalan-jalan dan senam. Masih dua hari lagi, begitu katanya. Ah, patah hati lagi saya.
Sampai rumah, saya menuruti semua pesan bidan. Berjalan mondar mandir. Memandikan anak-anak, menyuapi dan lain-lain. Lepas Maghrib intensitas nyeri semakin tinggi hanya masih bisa ditahan dan belum teratur. Selepas Isya anak-anak sudah tidur pulas, termasuk bapaknya 😪. Saya merasakan intensitas lebih tinggi lagi, untuk mengalihkan perhatian saya menyiapkan keperluan melahirkan di kamar belakang. Semua kebutuhan saya siapkan lalu, saya rebahan mencoba untuk tidur. Sambil berdoa tiada henti semoga persalinan lancar dan selamat. Sehingga bapak sampai sudah beres semua.
Pukul 9 malam, rasa nyeri semakin tinggi dan semakin sering, tapi masih bertahan.
Pukul 10 masih bertahan....
Pukul 10.30 masih bertahan tapi enggan beranjak dari tempat tidur. Bahkan untuk memanggil paksu saya via telepon. Sialnya, hp paksu di setel mode diam 😩. Dalam hati masih ingat, menurut bidan masih dua hari lagi. What the heck, masa harus sakit begini dua hari lagi?
Pukul 11 sudah tak tahan, memaksa bangkit dan memanggil paksu untuk menemani. Betapa terkejutnya beliau mendapati saya tengah kesakitan dan memanggilnya. Merasa bersalah karena tidak mendengar telepon saya.
Lima belas menit menemani, paksu memutuskan menelepon bidan. Dalam percakapannya bu bidan masih menanyakan frekuensi nyeri sudah setiap lima menit atau belum. Saya sambil kesakitan mengatakan ke paksu sudah terus menerus. Langsung bidan meminta untuk dijemput. Menurut bu bidan kaget juga dengan progresnya.
Sampai di rumah, hasil pemeriksaan saya sudah masuk pembukaan 4. Anehnya belum ada lendir dan kepala masih di atas. Bidan segera bersiap dan saya tak henti-henti berdoa. Suami senantiasa menemani dan memegangi saya. Nikmat rasanya jauh berbeda dengan dua proses persalinan sebelumnya. Luar biasa yang ketiga ini.
Pukul 12.15 bidan mengecek kembali, sudah masuk pembukaan 6.
Pukul 12.30 pembukaan 8 dan saya diminta untuk bersiap mengejan.
Selang 15 menit kemudian sudah tak tahan, bu bidan memimpin proses persalinan. Dengan sekuat tenaga berusaha mengeluarkan kepala bayi, sempat menggigil kedinginan, akhirnya kepala bayi bisa keluar.
Namun, badannya masih tersangkut di jalan lahir. Ooh, no! Bu bidan meminta untuk mengejan lagi sambil digoyang ke kanan dan ke kiri bayinya supaya bisa keluar.
Pukul 1.13 alhamdulillah bayi bisa lahir dengan selamat. Bersyukur tiada tara sambil berlinang air mata. Paksu segera membawa bayi mungil tersebut untuk diadzankan setelah dibersihkan dan dihangatkan.
But wait, belum selesai perjuangan. Plasenta berhasil keluar spontan, tetapiiiii... Masih ada yang tertinggal 😥. Bidan dengan sigap mencari, mengerok setiap senti dinding rahim untuk menemukan serpihan plasenta yang tertinggal. Rasanya? Jangan ditanya, aduhaiiiiii. Setelah dipastikan bersih barulah bidan membereskan semuanya. Termasuk proses penjahitan yang rasanya wow.
Pukul 2 semua sudah bersih, bayi sudah bisa menyusu. Masya Alloh leganya.
Pukul 3 si bayi menangis ketika di gendong ayahnya membangunkan Cia. Binar bahagia terpancar dari wajahnya yang mengantuk menerima kehadiran anggota keluarga baru.
Menjelang subuh, Bee terbangun dan mendapati suasana dan anggota baru. Sedikit lebih lama beradaptasi. Bee belum mau mendekati saya atau mencium adiknya. Namun, paginya selepas mandi, Bee mau mencium adiknya dan lebih sering berada di sampingnya sambil mengajak bermain.
Drama Bee diceritakan di postingan selanjutnya yak 😁
Pemeriksaan di bulan ke-2 kami mencoba dokter yang berbeda. Ya, sambil mencari yang bisa "klik" dengan saya. Setelah sesi pemeriksaan selesai saya berkonsultasi dengan beliau. Menurut beliau janin sehat dan semua normal kecuali, plasentanya. Hiks. Diketahui posisi perlekatan plasenta agak ke bawah. Khawatir dan sedikit panik segera saya cari referensi pengalaman dari teman dan saudara. Berbagai penguatan dari mereka mengurangi tingkat stress emak.
Bulan berikutnya keluar flek! Astaghfirulloh, apa lagi ini. Begitu pemikiran saya waktu itu. Dua kehamilan sebelumnya tidak pernah ada masalah berarti. Alhamdulillah kondisi baik-baik saja namun perlu penguat. Oke, dijalani lahi, bismillah. Dengan kondisi ini, kami terpaksa gulung tikar warung. Dan menyapih Bee, alhamdulillah Alloh mudahkan. Bee dengan mudah diberi pengertian dan tanpa drama berarti.
Bulan-bulan berikutnya alhamdulillah berjalan lancar tanpa hambatan berarti. Hingga masuk ke minggu ke-38 kami lebih sering kontrol. Masuk minggu ke-39 kami USG lagi semua kondisi bagus. Namun, sampai minggu ke-40 saya masih merasa HIS palsu saja. Hingga masuk minggu ke-41 saya masih merasakan HIS palsu. Perasaan sudah campur aduk. Namun dari hasil USG dan pemeriksaan bidan kondisi janin sehat. Beruntung bertemu bidan yang sabar dan bersedia menunggu sampai titik terakhir.
Hari Jum'at siang, minggu ke-41 saya periksa ke bidan karena merasa kontraksi semakin intens dan sering. Namun ketika dicek, pembukaan masih 1 lebih sedikit. Oke, kami pulang kembali. Paksu sudah ambil cuti hari itu untuk siaga. Hari Sabtu bapak saya beserta istri dan adik saya rencana berangkat ke Bogor untuk menemani kami.
Jum'at sore, lebih sering lagi kontraksi yang saya alami. Tapi intensitasnya masih sama saja. Pergi periksa, ternyata masih bukaan dua, kepala masih tinggi, dan belum ada lendir. Bidan menyarankan untuk pulang lagi, jalan-jalan dan senam. Masih dua hari lagi, begitu katanya. Ah, patah hati lagi saya.
Sampai rumah, saya menuruti semua pesan bidan. Berjalan mondar mandir. Memandikan anak-anak, menyuapi dan lain-lain. Lepas Maghrib intensitas nyeri semakin tinggi hanya masih bisa ditahan dan belum teratur. Selepas Isya anak-anak sudah tidur pulas, termasuk bapaknya 😪. Saya merasakan intensitas lebih tinggi lagi, untuk mengalihkan perhatian saya menyiapkan keperluan melahirkan di kamar belakang. Semua kebutuhan saya siapkan lalu, saya rebahan mencoba untuk tidur. Sambil berdoa tiada henti semoga persalinan lancar dan selamat. Sehingga bapak sampai sudah beres semua.
Pukul 9 malam, rasa nyeri semakin tinggi dan semakin sering, tapi masih bertahan.
Pukul 10 masih bertahan....
Pukul 10.30 masih bertahan tapi enggan beranjak dari tempat tidur. Bahkan untuk memanggil paksu saya via telepon. Sialnya, hp paksu di setel mode diam 😩. Dalam hati masih ingat, menurut bidan masih dua hari lagi. What the heck, masa harus sakit begini dua hari lagi?
Pukul 11 sudah tak tahan, memaksa bangkit dan memanggil paksu untuk menemani. Betapa terkejutnya beliau mendapati saya tengah kesakitan dan memanggilnya. Merasa bersalah karena tidak mendengar telepon saya.
Lima belas menit menemani, paksu memutuskan menelepon bidan. Dalam percakapannya bu bidan masih menanyakan frekuensi nyeri sudah setiap lima menit atau belum. Saya sambil kesakitan mengatakan ke paksu sudah terus menerus. Langsung bidan meminta untuk dijemput. Menurut bu bidan kaget juga dengan progresnya.
Sampai di rumah, hasil pemeriksaan saya sudah masuk pembukaan 4. Anehnya belum ada lendir dan kepala masih di atas. Bidan segera bersiap dan saya tak henti-henti berdoa. Suami senantiasa menemani dan memegangi saya. Nikmat rasanya jauh berbeda dengan dua proses persalinan sebelumnya. Luar biasa yang ketiga ini.
Pukul 12.15 bidan mengecek kembali, sudah masuk pembukaan 6.
Pukul 12.30 pembukaan 8 dan saya diminta untuk bersiap mengejan.
Selang 15 menit kemudian sudah tak tahan, bu bidan memimpin proses persalinan. Dengan sekuat tenaga berusaha mengeluarkan kepala bayi, sempat menggigil kedinginan, akhirnya kepala bayi bisa keluar.
Namun, badannya masih tersangkut di jalan lahir. Ooh, no! Bu bidan meminta untuk mengejan lagi sambil digoyang ke kanan dan ke kiri bayinya supaya bisa keluar.
Pukul 1.13 alhamdulillah bayi bisa lahir dengan selamat. Bersyukur tiada tara sambil berlinang air mata. Paksu segera membawa bayi mungil tersebut untuk diadzankan setelah dibersihkan dan dihangatkan.
But wait, belum selesai perjuangan. Plasenta berhasil keluar spontan, tetapiiiii... Masih ada yang tertinggal 😥. Bidan dengan sigap mencari, mengerok setiap senti dinding rahim untuk menemukan serpihan plasenta yang tertinggal. Rasanya? Jangan ditanya, aduhaiiiiii. Setelah dipastikan bersih barulah bidan membereskan semuanya. Termasuk proses penjahitan yang rasanya wow.
Pukul 2 semua sudah bersih, bayi sudah bisa menyusu. Masya Alloh leganya.
Pukul 3 si bayi menangis ketika di gendong ayahnya membangunkan Cia. Binar bahagia terpancar dari wajahnya yang mengantuk menerima kehadiran anggota keluarga baru.
Menjelang subuh, Bee terbangun dan mendapati suasana dan anggota baru. Sedikit lebih lama beradaptasi. Bee belum mau mendekati saya atau mencium adiknya. Namun, paginya selepas mandi, Bee mau mencium adiknya dan lebih sering berada di sampingnya sambil mengajak bermain.
Drama Bee diceritakan di postingan selanjutnya yak 😁
Comments
Post a Comment